
Memasuki tahun ke 2, tepatnya semester 4 di Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, akan dipelajari berbagai teori untuk mendukung kemampuan desain pada mata kuliah Perancangan Arsitektur 2, salah satunya teori dwelling. Teori dwelling ini dikemukakan oleh Martin Heidegger (1889–1976) dalam tulisannya yang berjudul “Building Dwelling Thinking“. Secara umum, simpulan bagian pertama dari buku Building Dwelling Thinking ini adalah sebagai berikut:
Berawal dari sebuah space, yang dianalogikan sebagai sebuah wadah kosong, Tuhan menciptakan kehidupan dengan cara membentuk makhluk hidup sebagai pelaku/subjek yang mengatur kehidupan, yang salah satunya adalah manusia. Sebagai makhluk hidup, manusia akan terus menerus memenuhi kebutuhannya, sebagai sebuah cara untuk mempertahankan eksistensinya. Kebutuhan tersebut dapat berupa kebutuhan naluriah maupun lahiriah, yang terangkum dalam vita complectiva dan vita activa. Dalam memenuhi kedua kebutuhan tersebut, manusia akan melakukan sebuah usaha, dimana jika usaha ini dilakukan secara terus menerus, akan menghasilkan sebuah kebiasaan (habit).
Namun, karena fitrahnya manusia merupakan makhluk social, maka dari kemajemukan tersebut, bergabunglah kebiasaan-kebiasaan individu ke dalam sebuah lingkungan sosial, dan terbentuklah agreement yang kemudian berkembang menjadi culture. Seiring berkembangnya waktu, culture tersebut mengalami perubahan akibat adanya pewarisan yang melibatkan perkembangan zaman yang disebut tradisi yang kemudian melahirkan sebuah memory pada masing-masing individu dalam lingkungan sosial tersebut.
Setelah itu, memory tersebut akan mempengarui individu dalam mengekspresikan dirinya melalui tindakan, pemikiran, dan perasaannya. Hal inilah yang kemudian akan mempengaruhi manusia dalam membuat bidang batas (marking) yang kemudian membentuk territory.
Dalam territory tersebut manusia menciptakan/menemukan identitas yang sesuai dengan kebutuhan dan memory yang dibawanya dari masa lalu sehingga dia merasakan perasaan yang nyaman dan lambat laun memunculkan sebuah perasaan home/homey. Dalam hal ini, home tidak hanya di artikan sebagai interaksi dalam diri seseorang terhadap ruangan yang ditempatinya, tetapi juga terhadap lingkungan sekitarnya (surrounding).
Keseluruhan proses diatas sejak terbentuknya space hingga memunculkan perasaan nyaman (homey), itulah yang disebut sebagai dwelling. Pencapaian tertinggi dari proses dwelling tersebut adalah home.